Sejarah Singkat

Pesantren Pondok Madinah

Adalah H. SAPPE NGANRO, seorang pengusaha bugis kelahiran Pinrang tahun 1932. Beliau hijrah ke Makassar pada tahun 60an, miniti karirnya dengan berbagai usaha. Pernah menjadi pegawai PU Kota Makassar, namun karena jiwa beliau adalah interpreniur ( wirausaha), maka ditinggalkanlah status beliau sebagai pegawai.

Sejak itu beliau sangat prihatin atas terjadinya kemerosotan akhlak, kenakalan remaja, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Maka beliau berfikir bahwa untuk memperbaiki moral bangsa tak lain harus dimulai dari Pendidikan Agama. Sehingga tercetuslah gagasan beliau untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Pesantren.

Maka pada tanggal 23 Ramadhan 1908 H. Bertepatan pada tanggal 10 Mei 1988 M. Bapak H. Sappe dan istri beliau ibu Hj. Khadijah bersama putra-putrinya berembuk untuk maksud tersebut. Lalu beliau berkonsultasi dengan tokoh agama dan pemuka agama masyarakat Sul- Sel serta instansi yang terkait. Maka gayung bersambut, gagasan tersebut mendapat dukungan positif dari masyarakat luas.

Kemudian di adakan pertemuan pertama bersama tokoh masyarakat di antaranya K.H.M Sanusi Baco Lc. , K.H Muh Nur, Dr. Umar Shihab, Drs. H. Abdurrahman, Drs. K.H Bakri Kadir, Drs. H.M. Tahrir Sarkawi, kapten dan Kubo serta sejumlah ahli Pendidik lainya:

  1. Segera membentuk Yayasan sebagai lembaga hukum, yang kemudian diberi nama YAYASAN PENDIDIKAN KHADIJAH. Yayasan diketuai langsung oleh Bapak H. Sappe. Didirikan pada hari Senin, 14 Syawal 1408 H. Bertepatan pada tanggal 30 Mei 1988. Dihadapan Notaris Abdullah Ashal, SH., dengan akte Notaris no 49.
  2. Menyusun Struktur Organisasi dan Personalia Pengurus Psantren. Dipinpin oleh Anre Gurutta H. M. Sanusi Baco, Lc. Wakil pimpinan Drs. H. Abdurrahman, kepala sekolah Drs. Nasaruddin Umar dan Bidang Kepsantrenan Drs, KH. M. Bakri Kadir.
  3. Segera mulai menerima pendaftaran santri tingkat SLTP/MTS dan SMU/MA untuk tahun ajaran 1988/1989.

Nama “Pondok Madinah” ini datang atas inspirasi Ketua Yayasan H. Sappe Nganro. Sebagai wujud atas kecintaanya beliau terhadap kota Madinah, kota awal pembinaan ummat dan basis perjuangan Rasulullah dalam menegakkan Panji Islam. Demikinlah, sehingga lembaga Pendidikan ini kemudian bernama ” Pesantren Pondok Madinah”. Dengan harapan, semoga lembaga ini menjadi basis pembentukan dan pembinaan generasi ummat pelanjut risalah Rasulullah Saw.

Dimulai pada tahun  itu juga (1988) memperkenalkan lembaga ini sampai kedaerah-daerah, khususnya oleh Anre Gurutta H. M. Sanusi Baco. LC. Beliau sangat berperang setiap kali berdakwah ke Daerah. Beliau mengajak masyarakat setempat untuk memasukkan putra-putri mereka dipesantren yang beliau pinpin sendiri ini.

Pada tahun pertama pembelajaran (1988-1989), jumlah santri dan santriwati keseluruhanya belum mencapai 100 orang, terdaftar sebagai siswa tingkat SLTP/MTS dan SMA/MA. Untuk sementara, mereka dipondokkan di rumah ketua Yayasan di Jln Sunu, sebuah bangunan rumah kayu panggung berlantai dua yang sangat sederhana.

Pada tahun kedua 1989-1990, tak disangka sangka animo masyarakat demikian besarnya terhadap pesantren yang baru berusia satu tahun ini. Pendaftaran melebihi 100 siswa, mulailah Yayasan berfikir untuk pengembangan sarana bangunan. Maka pada tahun itu, beliau segera membangun gedung asrama dan kelas didua lokasi sekaligus. Untuk santriwati dibuat gedung asrama dan ruang kelas berlantai dua diatas sebidang tanah kosong seluas 2500 M2 di Jln Sunu, persis bibelakang rumah Yayasan. Sedangkan untuk santri putra juga dibangun gedung semi permanen berlantai dua didaerah KM 9  Jln Asal Mula, Tamalanrea.

Pada tahun ketiga 1990-1991, pesantren ini semakin dikenal dimasyarakat luas. Apalagi setelah memperlihatkan prestasi demi prestasi yang diraih diberbagai lomba dan kejuaraan antar pelajar, baik dit ingkat Kabupaten/ Kota maupun Propinsi. Disamping itu, santri-santrinya aktif berdakwa keberbagai daerah bahkan sampai ke Kendari, Palu, Ambon dan Irianjaya. Pada tahun ini pula Pesantren Pondok Madinah pertama kali menammatkan santrinya. Lulusan lulusan yang dapat dibanggakan karena rata-rata mereka memperoleh nilai NEM yang sangat memuaskan. Serta memiliki kemampuan berbahasa Arab dan Inggris.

Dengan hasil prestasi yang dicapai oleh pesantren yang berumur relatif mudah ini, maka pada tahun ini pulah (1991), Lembaga ini di Akreditasi oleh Departemen P&K (sekarang DEPDIKNAS) dengan status diakui. Demikian pula dari Departemen Agama. Maka semakin berkibarlah Pesantren ini keberbagai penjuru.

Pada tahun 1995 – 1998 pesantren ini mengalami kemunduran, jumlah santri semakin menurun, disebabkan dari berbagai faktor baik internal  maupun eksternal, terutama akibat terjadinya krisis dan gejolak sosial ditengah masyarakat. Dengan akibat kuantitas santri semakin berkurang, maka Yayasan berinisiatif untuk menggabungkan kembali santri putra dan putri ke Jl. Sunu. Bersama waktu itu juga, kegiatan penataran (yang semula di Sunu) dipindahkan ke Sudiang. Maka sejak saat itu Pendidikan pesantren dipusatkan di Jl. Sunu, sehingga memudahkan pengelolaan manajemen Sekolah dan pembinaan santri dan santriwati.

Pada tahun ajaran 1998-1999, Yayasan adakan reformasi struktural organisasi. Dengan adanya perubahan mendasar tersebut, maka terjadilah perbaikan sistem, mulai dari perubahan manajement pembinaan, penataan kembali administrasi sekolah, melengkapi sarana laburatorium IPA, Bahasa dan Leb Komputer, menambah buku-buku literatur perpustakaan, sarana olah ragadan lain-lain sebagainya. Mulailah nampak adanya suasana baru, semangat baru dan motifasi baru.

Beransur-ansur kualitas dan kuantitas santri mulai meningkat, sehingga pada tahun ajaran 2002-2003, jumlah santri telah melebihi kapasitas tempat yang tersedia, jumlah putra hampir mencapai 200 anak, dan putri kurang lebih 250 anak. Sementara daya tampung Kampus di Jl. Sunu maksimum hanya 400 orang.

Pada bulan oktober 2002 Yayasan segera mengambil sikap memindahkan santri putranya ke Jl. Perintis Kemerdekaan KM 9. Sebuah kampus baru dilokasi strategis, berdiri gedung megah dan kokoh berlantai dua, didukung dari berbagai fasilitas sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap.

Mulai tahun ini pula Psantren Pondok Madinah mengembangkan sayapnya dengan membuka jurusan baru, Sekolah Menengah Kejuruan Teknologi (SMKT), terdiri dari Bidang Keahlian Teknik Mesin dan Bidang Teknik Elektronik.

Kini kampus santriwati (putri) dipusatkan di Jl. Sunu dengan kapasitas daya tampung kurang lebih 400 orang, sedangakan kampus putra dipusatkan di KM 9 Jl. Printis Kemerdekaan dengan daya tampung kurang lebih 300 orang.

Dengan adanya lokasi kampus putra yang baru dengan luas tanah lebih 10.000 M2, maka rencana Yayasan untuk pengembangan kedepan. Insya Allah, akan dibangun asrama dan ruang kelas berlantai empat. Disamping itu, untuk program mendatang, akan didirikan perguruan mulai tingkat TK sampai Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, doa dan dukungan dari semua pihak sangat diharapkan demi terwujudnya generasi harapan ummat.

Wassalam,

 

Makassar,     2015